
Pekanbaru – Pertandingan antara PSPS Pekanbaru melawan Adhyaksa FC Banten berakhir imbang dengan skor 1-1. Laga yang digelar di Stadion Kaharuddin Nasution, Pekanbaru, pada Jumat malam (23/1/2026) tersebut diwarnai sejumlah keputusan wasit yang dinilai merugikan tuan rumah.
Dalam pertandingan tersebut, PSPS Pekanbaru sebenarnya memiliki dua peluang emas yang berpotensi menjadi gol. Namun, kedua peluang tersebut dianulir setelah wasit melakukan pengecekan melalui Video Assistant Referee (VAR).
Peluang pertama terjadi pada menit ke-35 babak pertama. Penyerang PSPS, Vieri Donny, dijatuhkan kiper Adhyaksa FC di dalam kotak penalti. Wasit Yeni Krisdianto sempat menunjuk titik putih sebagai tanda penalti untuk PSPS. Namun setelah dilakukan pengecekan VAR, keputusan tersebut dibatalkan. Jatuhnya Vieri Donny hanya berbuah tendangan bebas bagi PSPS.
Sebaliknya, pada menit 45+13, Adhyaksa FC justru mendapatkan hadiah penalti. Penyerang Adhyaksa, Fergonzi, terjatuh di dalam kotak penalti setelah berhadapan dengan penjaga gawang PSPS, M. Darmawan. Usai pengecekan VAR, wasit menilai penyelamatan tersebut sebagai pelanggaran dan memberikan penalti kepada tim tamu.
Peluang kedua PSPS tercipta pada menit ke-63 melalui gol Antonio Gamaroni. Antonio yang menerima umpan silang dari Misbakus Sholikin mengontrol bola dengan dada sebelum melepaskan tembakan keras ke gawang Adhyaksa FC. Wasit bahkan sempat menunjuk titik tengah sebagai tanda gol sah.
Namun, setelah kembali melakukan pengecekan VAR, wasit menganulir gol tersebut dengan alasan handsball. Keputusan ini menimbulkan tanda tanya karena pada saat kejadian, tidak ada satu pun pemain Adhyaksa FC yang melakukan protes atau mengangkat tangan menandakan pelanggaran handsball.
Hingga peluit panjang dibunyikan, skor tidak berubah dan PSPS Pekanbaru harus puas berbagi poin dengan Adhyaksa FC Banten.
Menanggapi hasil pertandingan tersebut, Pelatih PSPS Pekanbaru, Aji Santoso, menyebut laga tersebut sebagai pertandingan yang memalukan. Meski demikian, ia enggan menuduh pihak mana pun dan menyadari bahwa protes tidak akan mengubah hasil akhir pertandingan.
“Sebelumnya saya mohon maaf, untuk respon pertandingan ini saya tidak bisa menjawab panjang lebar. Saya tidak menuduh siapa-siapa, tapi pertandingan malam hari ini memalukan bagi saya,” ujar Aji Santoso.
Aji juga menegaskan bahwa dirinya tidak ingin banyak mengomentari jalannya pertandingan. Namun, ia menilai laga ini bisa menjadi modal berharga bagi timnya untuk menghadapi pertandingan tandang terakhir di Banda Aceh.
“Ini menjadi modal bagus untuk laga terakhir kami di Banda Aceh. Pemain sudah memberikan yang terbaik. Saya tidak menuduh siapa-siapa, silakan teman-teman wartawan menganalisa sendiri,” pungkasnya.


















